Isu Negara Israel Dan As Mengajukan Gugatan Kepada PBB Atas Pandemic Covid19 Kepada China

Institusi Swadaya Masyarakat (LSM) daftar bandar judi slot berencana untuk mengajukan gugatan class action terhadap China dalam sebagian hari akan datang.

Alasan dari gugatan itu adalah karena China diduga menjalankan kelalaian dalam menangani dan membendung wabah virus corona (COVID-19), lapor N12 pada Pekan (19/4/2020), mengutip Jerusalem Post.

Sesudah diajukan, gugatan Israel akan bergabung dengan setidaknya empat tuntutan hukum yang sedang diajukan ke pengadilan Amerika Serikat (AS) terhadap otoritas China berhubungan pandemi, kata Newsweek.

Berdasarkan Aviel Letiner, suami dari direktur Shurat HaDin Nitsana Darshan-Leitner, gugatan itu diajukan di AS karena sebagian besar negara lain takut akan implikasi energi ekonomi China.

Ia juga mengatakan bahwa China wajib tak akan dapat menghindari tuduhan kegagalan negara itu dalam menangani virus.

Berkaitan angka kompensasi dari gugatan itu, berdasarkan Daily Examiner kalau gugatan telah diputuskan, karenanya China kemungkinan wajib membayar sebesar US$ 6 triliun atau sekitar Rp 90 ribu triliun (estimasi kurs Rp 15.000/dolar).

Di sisi lain, Amerika Serikat sebelumnya telah mengajukan tuntutan serupa sesudah mencurigai China telah menjalankan kesalahan dalam menangani wabah. AS menuduh China menutup-nutupi wabah di permulaan kemunculannya sehingga sekarang wabah itu menyebar ke semua dunia dan menyebabkan kematian banyak orang, serta merugikan ekonominya.

Oleh karena itu, Senator Tom Cotton bersama dengan Perwakilan AS dan Crenshaw akan menerbitkan undang-undang yang akan memungkinkan warga AS untuk menuntut China berhubungan permasalahan ini di pengadilan federal.

Dengan membungkam para dokter dan jurnalis yang mencoba memperingatkan dunia perihal virus corona, Partai Komunis China membolehkan virus itu menyebar dengan cepat ke semua dunia, kata Cotton dalam sebuah pernyataan, berdasarkan New York Post.

Keputusan mereka untuk menutupi virus menyebabkan ribuan kematian yang tak wajib terjadi dan kerugian ekonomi yang tak terhitung. Kami layak minta pertanggungan jawab pemerintah China atas kekacauan yang disebabkannya,

Pada permulaan April, Inggris juga telah mempertimbangkan tuntutan serupa. Sebagaimana dilaporkan Express pada 5 April, Inggris sedang mempertimbangkan tuntutan yang mungkin akan diajukan ke PBB dan Mahkamah Internasional sesudah mencurigai China menjalankan kelalaian dalam menangani wabah COVID-19.

Dalam sebuah penelitian yang berjudul Kompensasi Coronavirus: Mengevaluasi potensi kesalahan China dan pertanggungjawaban trek hukum disebutkan bahwa PKC (Partai Komunis China) telah berusaha menyembunyikan informasi buruk di kalangan atas, dan menyembunyikan informasi buruk dari dunia luar.

Kini China telah merespon dengan mengerahkan kampanye disinformasi yang maju dan canggih untuk meyakinkan dunia bahwa negara itu bukan penyebab krisis, dan bahwa dunia wajib berterima beri atas semua yang dilakukan China.

Yang benar adalah bahwa China bertanggung jawab atas COVID-19 – dan kalau tuntutan hukum diajukan terhadap Beijing, nilainya dapat mencapai triliunan pound.

Berdasarkan Henry Jackson Society, kalau gugatan telah diputuskan, China kemungkinan wajib membayar lebih dari £ 350 miliar atau sekitar Rp 7.000 triliun.

Sebelumnya China berulang kali menyanggah tuduhan sejumlah negara yang mendeskriditkan negara itu berhubungan corona. Ketika ini, ada 2,4 juta manusia di dunia yang terinfeksi corona dan tersebar di 200 negara dan teritori.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.